PENELITI Whitehead Institute telah mengubah sel induk pluripoten terimbas (induced pluripolent stem cell/\PS) dan sel induk embrionik manusia (embryonic stem cell I ES) ke dalam kondisi dasar dengan kapasitas pluripoten yang lebih besar.
ES dan iPS telah menarik banyak perhatian karena keunggulan mereka untuk tumbuh menjadi hampir semua jenis sel dalam rubuh (pluripoten). Karena masalah etika dan hukum yang menghambat penelitian ES pada manusia, sel tikus menjadi subsbtusinya.Namun, sel ES pada tikus dengan manusia amat jauh berbeda. Dengan demikian, kemajuan apa pun pada sel ES tikus menjadi tidak dapat dipakai saat berhubungan dengan sel ES manusia.
Karena perbedaan biologis itulah, peneliti menjuluki ES dan iPS pada tikus sebagai sel tulen, sedangkan pada manusia sebagai sel siap. Maksudnya, sel yang diutamakan untuk diferensiasi.Untuk menghasilkan rangkaian sel ES, para penelitimengangkat sel dari embrio tahap awal yang disebut blastosit. Lalu menaruhnya ke dalam serum bersama sel lain agar ES tetap hidup.
Dalam membuat sel iPS, peneliti mengambil sel orang dewasa dan memasukkan 3-4 gen ke dalam genom sel. Gen-gen itu memprogram ulang sel-sel dewasa sehingga mirip seperti sel induk. Seperti ES, ia pun dimasukkan ke dalam serum bersama sel lainnya.Meskipun sel manusia dan sel ES dan iPS tikus diteliti dan ditangani dengan cara yang sama, temyata sel manusia selalu kembali ke kondisi siap. Artinya, ada kemungkinan sel ES manusia terdiferensiasi.
Untuk menentukan apakah sel ES dan iPS manusia bisa dibuat dengan cara seperti pada sel tikus, peneliti menyisipkan dua gen ke dalam sel ES dan iPS yang dipersiapkan sebelumnya. Peneliti juga menambahkan faktor pertumbuhan ke dalam serum. Sekitar tiga pekan kemudian, sel manusia secara morfologis dan biokimia menjadi sel yang mirip seperti sel bkus. (Sciencedaily/VChp/M-1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar